Aku seharusnya senang mendengar berita barusan. Tapi mengapa hatiku malah terasa sakit?
Bukan karena terluka, tapi… kehilangan.
November 15
Aku berusaha mengontrol emosiku yang akan segera meluap ini. Sambil terus menuruni tangga bandara, aku –dan Mama- memapah ayahku, berusaha terlihat sesibuk mungkin agar tidak perlu melihat ke atas. Isak tangis Mama dan Papa di sebelahku membuat aku harus berusaha ekstra keras mengontrol kerja kelenjar air mataku. Mungkin aku seharusnya melirik sedikit ke arah atas, agar bisa melihat mereka untuk terakhir kalinya –setidaknya untuk 3-4 bulan ke depan. Tapi tidak, aku tidak boleh melakukannya. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan kakakku dan suaminya, karena itu hanya akan semakin memperparah keadaan.
Setelah –kupikir- mereka tidak bisa melihatku lagi, pertahananku mulai melemah. Mataku berkabut, menghalangi jarak pandangku dari para petugas yang memeriksa boarding pass setiap penumpang. Aku memberikan boarding pass kami, dan berjalan sedikit di belakang kedua orangtuaku, menghapus jejak air mata di wajah.
Indahnya pemandangan pulau dan laut dari atas langit tidak terlalu menggugah seleraku untuk melirik ke arahnya, bahkan walaupun aku duduk di sebelah jendela. Entah kenapa, hanya saja…aku tidak tertarik. Sh*t, novel New Moon yang aku bawa sudah selesai kubaca, jadi sekarang aku tidak punya sesuatu untuk terlihat sibuk, pikirku. Lantas ide klasik namun cukup ampuh pun terlintas di benakku. Tidur. Ya, tidak akan ada apapun –siapapun- yang tega mengganggumu jika kau sedang tidur nyeyak. Setidaknya itulah yang terlintas dalam pikiranku saat itu. Lalu aku mulai memejamkan mata, berusaha mengabaikan mataku yang panas dan dengungan tekanan udara di telingaku.
Desember 7
Aku bergumam mengikuti alunan musik yang terdengar dari komputer di hadapanku. Inilah hal utama yang harus dilakukan saat aku memiliki waktu senggang, mendengarkan musik. Mungkin bisa diistilahkan dengan Altoid versi musikal. Haha. Aku menyukai istilah itu.
Tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Samar-samar terdengar suara Mama berbicara.
“Oh, Abang ya? Gimana kabarnya, Bang? …iya, Mama sama Papa lagi nonton video pernikahan kalian nih. …Oh, udah isi ya? Alhamdulillah…”
Walaupun aku langsung mematikan lagu yang sedang diputar, namun percakapan selebihnya tidak bisa kutangkap. Sekarang hanya ada satu hal yang menarik semua fokusku. “Isi”? Apanya yang…. OH! Tiba-tiba aku teringat kakakku. Dia kan sudah menikah [kadang-kadang kenyataan yang satu ini sulit kupercaya], dan jika kata “isi” itu berarti sesuatu, pasti itu artinya kakakku hamil. Hahaha!! Aku tak bisa membayangkan dia menggendong bayi. Apalagi kenyataan bahwa aku –sewaktu-waktu- harus mengasuhnya. OH NO.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan anak kecil, hanya saja mereka kurang memiliki rasa humor yang tinggi. Apalagi bayi. Ya TUHAN.. untung mereka imut-imut, kalau tidak, mungkin aku tidak bisa menerima keeksisannya. Karena itulah, aku hanya menerima keberadaan anak-anak berumur 3 tahun ke atas. Mereka lebih mudah diajak berkomunikasi, dan juga lebih menghargai lelucon yang kulontarkan.
Aku seharusnya senang mendengar berita barusan. Tapi mengapa hatiku malah terasa sakit? Bukan karena terluka, tapi… kehilangan. Aku seharusnya ada di samping kakakku saat ia mengalami ‘masa-masa awal menjadi ibu’-nya ini. Entah mengapa, hanya saja ini terasa sangat…salah. Tapi aku tetap memikirkan sisi positifnya – sudahlah, toh jaman sekarang sudah ada internet dan telepon, kalau kangen ya tinggal telepon atau chatting. Terima kasih Tuhan, kau membuat kedua orangtuaku sadar untuk memasang internet di rumah. Hehehe.
Lalu tiba-tiba ringtone This Is The Life milik Amy Macdonald berbunyi nyaring dari handphone-ku. Kulihat layarnya. Ha! Kakak iparku menelepon. Pasti kakakku tidak punya pulsa, jadi dia meminjam handphone suaminya. Dasar, pikirku. Setelah berbicara sesaat dengan kakak iparku, telepon dialihkan ke tangan kakakku. Terdengar suaranya di ujung sana.
“Halo, Bon,”
Haha. Aku tersenyum mendengar panggilan itu.
Filed under: Diary, Knowledge | Tagged: Add new tag, assyifa, bandara, handphone, komputer, laut, pulau, ringtone





